Pages

Subscribe:

Labels

Yertle, The Turtle King

turtle2“I have a nice story, yg dikarang oleh Theodor Seuss Geisel, pengarang buku cerita anak-anak terkenal, cerita ini tentang seekor kura-kura bernama Yertle.


Yertle adalah raja kura-kura di sebuah kolam yang aman dan damai. Setiap hari ia duduk di takhtanya, yakni sebuah batu di tengah kolam. Suatu saat ia berpikir, andai takhtanya lebih tinggi, tentu ia dapat melihat banyak hal yang indah di luar kolam.


“Yertle mendapat akal. Ia memerintahkan sembilan ekor kura-kura untuk saling menaiki punggung, sehingga tersusun tinggi ke atas. Lalu ia naik ke punggung kura-kura paling atas dan melihat pemandangan yang luas dari tempat tinggi.


Mack, kura-kura yang berada paling bawah, mengeluh kesakitan. Namun, Yertle tidak peduli. Ia terus memerintah supaya jumlah tumpukan kura-kura ditambah. Sampai akhirnya, jumlah kura-kura yang bertumpuk adalah 5.816 ekor. Ketika itulah Mack – yang berada di paling bawah – bersendawa.


Lalu bergoyanglah kura-kura lain di atasnya. Akibatnya, Yertle yang berada di ketinggian jatuh, dan mati.




Yg jelas selalu ada ‘upah’ saat kita mulai tamak dan sombong dengan kedudukan.. entah kekayaan, kepandaian, kecantikan, karir, gelar, bla-bla-bla dst… just becarefull… somehow when we try too much.. its can kill us..


jangan remehkan pula ‘orang bawah’ – karena dialah yg biasanya menjadi orang pertama dan penentu dalam ‘proses jatuh’ kita

10.08 | 0 komentar | Read More

Puzzle Story

butterfly_puzzleMmm.. aku punya cerita.. just hope this story can inspired u.. Aku lupa dari mana sumbernya.. yang jelas dari salah satu buku-bukuku. Mungkin ceritanya pun nggak tepat seperti ini (aku agak lupa juga..).. already inspired me… for many years..


Beberapa tahun lalu, saya pernah mendapat hadiah unik berupa lima ratus keping puzzle. Supaya bisa membentuk gambar yang indah, saya harus menyusun lima ratus keping itu di tempat yang tepat. Menyusunnya tidaklah mudah dan memakan waktu lama, sebab setiap keping itu tampak serupa walau sesungguhnya masing-masing unik. Baru setelah tersusun rapi, saya puas melihat gambar indah yang terbentuk.


Saat penyusunan puzzle, saya jadi ingat akan kehidupan di sekitarku.. setiap kita ini bagaikan sekeping puzzle. Tanpa orang lain, setiap kelebihan dan kekurangan yang kita miliki menjadi sia-sia. kelebihan dan kekurangan itu baru berfungsi ketika tiap-tiap orang mau hidup saling berbagi, saling mengisi, dan saling melayani.


‘Klik’ dalam setiap puzzle itu seakan melambangkan kelebihan hanya akan berguna saat kita bertemu orang lain, dan kekurangan akan terkikis saat kita dirangkul orang lain… Pada saat itulah, seperti puzzle – kehidupan manusia akan disusun dengan rapi oleh ALAM.. menjadi sebuah gambar kehidupan yang indah dan harmony..


Kita tak dapat memaksa ALAM untuk memberi kelebihan atau kekurangan tertentu. Dia akan memberikannya “seperti yang dikehendaki-Nya”. Lebih penting lagi, jika mau merelakan diri untuk dibentuk dan ditempatkan ALAM pada posisi yang tepat dalam kehidupan. Izinkan Dia menguasai hidup kita-dan hal biasa pun dapat berubah menjadi hal yang luar biasa..

10.07 | 0 komentar | Read More

Empat Lilin

lilinAda 4 lilin yang menyala di dalam sebuah kamar, sedikit demi sedikit lilin tersebut habis meleleh dan suasana terasa begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.


Aku adalah “Damai“. Namun manusia tak mampu menjagaku : maka lebih baik aku mematikan diriku saja !” Demikianlah sedikit demi sedikit sang Lilin Damai padam.


Aku adalah “Iman“. Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkan Lilin Iman tersebut.


Dengan sedih giliran ketiga berbicara : Aku adalah “Cinta“. Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan menganggapku berguna. Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mecintainya, membenci keluarganya. ” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin Cinta tersebut.



Tanpa terduga…. ANAK pemilik rumah itu masuk ke dalam kamar untuk mengambil ‘benda-benda’ milik-Nya di sana, dan melihat ketiga lilin telah padam. Karena dia tidak bisa melihat jelas dalam gelap, ia berkata : ” Ekh, apa yang terjadi ? Kalian harus tetap menyala, Aku tidak mau rumah-Ku gelap !”


Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.


Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN. Harapan yang ada dalam hati kita. Dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat seperti anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-Nya !


(Cerita ini mengingatkan aku tentang seorang ANAK yang pernah memungut aku dari kamar-Nya yang (dulu) gelap)

.

10.07 | 0 komentar | Read More

Anjing Cerdas

anjingSeorang tukang daging heran ketika melihat ada anjing yang masuk ke tokonya, dia beberapa kali mencoba mengusir anjing itu, tetapi beberapa kali juga anjing itu selalu kembali lagi ke tokonya.


“Dengan penuh tanda tanya, akhirnya tukang daging tersebut mulai mendekati dan mengamati anjing tersebut. Penjual daging itu terkejut ketika ia mendapati bahwa ada sebuah kertas kecil yang tergantung di leher anjing itu dan bertuliskan : “Berikan aku 12 sosis dan 1 paha kambing”. Penjual daging itupun makin terkejut lagi ketika ia mendapati bahwa anjing itu juga menggigit uang 20 dollar – jumlah yang cukup untuk membeli ‘pesanan’ anjing itu.


“Dengan merasa agak aneh, penjual daging itu mengambil uang dari mulut anjing itu, menyiapkan ‘pesanannya’, membungkus 12 sosis dan 1 paha kambing ke dalam sebuah tas plastik, lalu memberikannya kepada anjing itu. Anjing itu pun dengan sigap menggigit pegangan tas plastik itu … lalu ngeloyor pergi.


“Penjual daging sangat penasaran dengan anjing tersebut. Kebetulan saat itu sekitar pukul 5 sore.. “Waktu tutup toko !” penjual daging itu berkata. Ia lalu bergegas menutup tokonya secepat mungkin, dan segera mengikuti ke mana anjing itu pergi.


“Saat anjing itu akan menyeberangi jalan – penjual daging mengamatinya – anjing itu meletakkan tas plastiknya, lalu melompat untuk menekan Tombo Penyeberangan. Sesaat, anjing itu menunggu lalu-lintas aman, dan anjing itu pun menyeberang jalan bersama tas plastiknya.



“Disudut jalan, anjing itu berhenti di sebuah halte bus, lalu mengamati Jadwal Bus yang ada di situ. Lalu dengan sabar, anjing itu duduk di kursi tunggu – menunggu bus datang.


” Sebuah bus pun datang, anjing itu segera berlari-lari berusaha melihat bagian belakang bus – yang biasanya terpampang no seri tujuannya, rupanya itu bukan bus yang ia cari, dan anjing itu pun kembali duduk di kursi tunggu.


“Beberapa menit kemudian, bus lain datang. Seperti tadi, anjing itu langsung berlari ke belakang bus untuk melihat nomor serinya. Dan dengan segera, anjing – dengan tas plastik yang masih dimulutnya – segera bergegas masuk ke dalam bus. Si tukang daging pun ikut-ikutan masuk ke dalam bus – kali ini dengan mulut melongo.


“Setelah sekitar 20 menit perjalanan, Anjing itu pun lalu turun di depan sebuah rumah megah, sambil berlari-lari kecil dengan barang bawaannya, anjing itu masuk ke pelataran rumah itu. Sang tukang daging pun juga ikut turun dari bus dan mengamatinya.


“Saat sampai di depan pintu depan, anjing itu lalu meletakkan barang bawaannya di tangga – mundur beberapa langkah – lalu lari dan membenturkan badannya ke pintu. Hal ini dilakukannya beberapa kali.


“Merasa tidak berhasil membuka pintu depan, anjing itu lalu berlari ke samping rumah – memanjat tembok kecil yang ada di situ – lalu membentur-benturkan kepalanya pada sebuah jendela. Lalu ia turun dan segera berlari ke depan pintu depan lagi.


“Beberapa saat kemudian seorang pria gemuk keluar dari pintu depan, sambil berteriak, “Dasar anjing bodoh !” Pria itu pun membentak-bentak anjing itu, memukulnya, dan menendangnya, sambil mengumpat beberapa kali.


“Merasa ‘tidak terima’ , si tukang daging itu pun menghampiri si pemilik rumah sambil berseru, “Hey ! apa yang kau lakukan ? anjing ini jenius, bahkan anjingmu ini layak untuk muncul di TV !”


Tidak mau kalah, Pria pemilik rumah itu pun menjawab, “Apa kau bilang ? jenius ?” Pria gemuk itu melanjutkan, “Sudah dua kali dalam seminggu – anjing ini lupa membawa kunci pintu depan ! benar-benar bodoh ! dasar anjing tolol !”.





…Orang kadang kala tidak pernah puas dengan apa yang ia dapatkan. Seperti halnya dalam perusahaan, sering kita lihat, bahwa pimpinan sering tidak tau bagaimana cara menghargai pegawai-pegawainya – yang telah dengan setia melayani dan ‘mencarikan uang’ baginya. Saya sendiri sering sekali melihat, bagaimana banyak perusahaan kehilangan orang-orang terbaiknya – karena sang pemimpin gagal memberikan penghargaan yang pantas bagi para pegawainya.


Pegawai seringkali harus pasrah menerima kenyataan, bahwa bagaimanapun pimpinan tetap memiliki kekuatan dan otoritas yang ‘tak terlawan’. Si pimpinan sendiri pun terus berusaha menonjolkan superioritasnya – lewat cara mereka memberikan perintah dan ‘teladan’ – seolah-olah ‘aku’ adalah ‘luar biasa’ dan ’segalanya’.


Kalo boleh dibilang, mereka ini adalah orang-orang tolol. Dan semua orangpun tahu akan hal ini (kecuali mereka sendiri). Mereka tidak akan pernah puas, sekalipun orang-orang telah memberikan pelayanan terbaiknya.


Orang orang seperti ini tidak akan pernah mau menerima opini dan ide dari orang-orang dibawahnya. Kenapa ? karena mereka terlalu bangga pada dirinya sendiri.


Kenapa mereka tidak pernah puas ? karena mereka terlalu sibuk menutupi kekurangannya sendiri – dan kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa mereka ‘tidak sempurna’. Padahal, fakta selalu membuktikan bahwa orang yang produktif adalah orang yang lebih berorientasi pada “others-centered” dari pada “self-centered”.


Ada sebuah konsep terindah : pimpinan bukan berarti ‘penekan’, melainkan sebagai ‘pendorong’ . Ia adalah seorang ‘motivator’ bukannya ‘manipulator’. Kebahagiaannya adalah ketika ia dapat melihat bawahannya dapat bekerja penuh semangat, tanpa terpaksa, tanpa harus diawasi, dan tanpa diancam.

10.05 | 0 komentar | Read More

Nilai Sepuluh Bagi Tina

cewek“Tina, cewek berusia 17 tahun, Ia ramah, dan selalu menebar senyum ceriahnya. Tapi, Tina adalah seorang penderita “cerebral palsy”, sejenis kelainan tubuh, dimana beberapa bagian otot-otot tubuhnya kaku dan lumpuh. Karena kelainan ini pula, ia mengalami kesulitan untuk berbicara. Ia harus menggunakan alat bantu untuk menerobos hiruk-pikunya lorong sekolah.


Orang-orang agak enggan berbicara dengannya, mengapa ? Entahlah, mungkin karena ia kelihatan ‘berbeda’ dan siswa-siswa tidak tahu atau canggung untuk mendekatinya. Tetapi Tina adalah orang yang ramah. Ia tidak pernah bosan berkata “Hai” dengan orang-orang yang ditemuinya di lorong.


Tugas hari ini ialah menghafal puisi yang berjudul “Jangan Putus Asa”. Bobot nilai tugas ini hanya 10, berbeda dengan tugas-tugas lain seperti Quis- yang biasanya aku beri bobot 100 di kurikulum sekolah. Aku jadi ingat sewaktu sekolah dulu, jika ada guru yang memberi tugas dengan bobot nilai 10, pasti aku menganggapnya remeh ..yah karena itu tidak begitu penting, dan tidak berpengaruh banyak pada nilai indeks akhir semesterku.


Hari ini aku – seorang guru di sekolah ini – melihat Tina di kelasku untuk mengikuti tugas yang aku berikan pada murid-muridku. Aku menemukan ada yang lain pada dia.. ya ! dibalik senyum cerahnya itu ia seperti menyimpan kekhawatiran.. “Tidak usah cemas Tina” Kataku pada diri sendiri, “Bobot nilainya cuma 10.”


Aku mulai melaksanakan tugas yang aku berikan pada murid-muridku. Satu-per-satu mereka maju ke depan kelas – untuk mengucapkan puisi tanpa teks. Dan dapat kuduga, sebagian besar dari mereka ‘lupa’ atau hanya bisa menghapal sepotong dua potong kata dari puisi tersebut. Yah.. mereka juga tahu bahwa bobot nilai tugas ini hanya sedikit, dan aku tahu, mereka tidak begitu serius mempelajarinya.


Aku mulai bergurau pada mereka, “Jika ada yang masih tidak hapal, Bapak akan langsung suruh kalian push up 10 kali !”. Ya, ini hanya gurauan, dan seisi kelas pun tertawa karena ‘kekesalanku’ ini.



Aku tidak sadar, ternyata yang mendapatkan giliran maju ke depan kelas berikutnya adalah Tina.


Sepatah demi sepatah Tina mulai mengucapkan bait-bait puisi tersebut. Dan belum sampai akhir bait kedua… Ia mulai lupa. Sebelum aku mulai berkata, tiba-tiba Tina melempar alat bantu jalannya dan mulai mengambil posisi push up. Aku terkejut setengah mati, dan spontan berkata, “Tina, aku hanya bercanda !” Tina pun merangkak mengambil alat bantunya, kemudian – dengan bantuanku ia berdiri lagi, meneruskan puisinya.


Dan, Tina berhasil mengucapkan puisi itu secara sempurna ! tidak lupa sama sekali. Dia adalah salah satu diantara 3 muridku yang bisa mengucapkan puisi itu secara sempurna.


Ketika selesai berpuisi, salah satu murid bertanya padanya, “Tina, mengapa engkau bersikeras melakukannya ? Bukankah bobot nilainya cuma 10 ?” Tina memerlukan sedikit waktu sebelum menjawab, “Karena aku ingin seperti kalian, normal !”


Keheningan mulai menyelimuti seluruh kelas. Semua tiba-tiba diam – termasuk aku. Kesunyian ini pecah saat ketika seorang siswa berkata, “Tina, sejujurnya kami juga tidak normal, kami hanya anak-anak biasa, sering sekali berbuat kesalahan.”


“Aku tahu, ” Jawab Tina dengan senyum lebar menghias wajahnya.


Tina memperoleh nilai maksimal saat itu, Sepuluh ! dari bobot nilai yang sebesar 10 juga. Ia juga mendapatkan rasa sayang dan hormat dari teman-teman sekelasnya. Aku tahu betul, baginya, itu jauh lebih berharga dibandingkan nilai yang cuma berbobot sepuluh itu.


- Kisah nyata, Seperti yang dituturkan Tom Krause,br /Seorang Guru SMU di USA, pernah dimuat di Washington Post, 2002.

10.04 | 0 komentar | Read More

Kerjakan Yang Kau Mampu

swallowDi suatu hari saat musim gugur, seorang petani melihat seekor burung walet kecil berbaring telentang di tengah ladangnya. Petani itu berhenti mencangkul, dan menghampiri mahkluk kecil bersayap itu, lalu bertanya, “Mengapa kau berbaring dengan kaki ka atas seperti itu ?”


“Aku dengar musim gugur ini akan dahsyat sekali,  kata burung-burung disana, langit juga akan gugur dan runtuh seperti daun-daun itu.”


Petani itu heran. “Apakah menurutmu kau dapat menahan langit dengan sepasang kaki kecilmu itu ?”


“Bukankah setiap hewan harus mengerjakan apa yang mampu diperbuatnya?” jawab sang burung dengan tegas.


(D’ette Corona – 1999
10.03 | 0 komentar | Read More

Kasih Terbesar

anak-vietnam“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya…”


Pada suatu siang, sebuah peluru mortir mendarat di sebuah panti asuhan di sebuah perkampungan kecil Vietnam. Seorang petugas panti asuhan dan dua orang anak langsung tewas, beberapa anak lainnya terluka, termasuk seorang gadis kecil yang berusia sekitar 8 tahun.


Orang-orang dari kampung tersebut segera meminta pertolongan medis dari kota terdekat.  Akhirnya, seorang dokter Angkatan Laut Amerika dan seorang perawat dari Perancis yang kebetulan berada di kota itu bersedia menolong. Dengan membawa Jeep yang berisi obat-obatan dan perlengkapan medis mereka berangkat menuju panti asuhan tersebut.


Setelah melihat keadaan gadis kecil itu, dokter menyimpulkan bahwa anak tersebut sudah dalam keadaan yang sangat kritis. Tanpa tindakan cepat, anak itu akan segera meninggal kehabisan darah. Transfusi darah adalah jalan terbaik untuk keluar dari masa kritis ini.


Dokter dan perawat tersebut segera mengadakan pengujian singkat kepada orang-orang di panti asuhan – termasuk anak-anak,  untuk menemukan  golongan darah yang cocok dengan gadis kecil itu.  Dari pengujian tersebut ditemukan beberapa orang anak yang memiliki kecocokan darah dengan gadis kecil tersebut.



Sang dokter, yang tidak begitu lancar berberbahasa Vietnam – berusaha keras menerangkan kepada anak-anak tersebut – bahwa gadis kecil itu hanya bisa ditolong dengan menggunakan darah salah satu anak-anak itu. Kemudian, dengan berbagai bahasa isyarat, tim medis menanyakan apakah ada di antara anak-anak itu yang bersedia menyumbangkan darahnya bagi si gadis kecil yang terluka parah.


Permintaan itu ditanggapi dengan diam seribu bahasa. Setelah agak lama, seorang anak mengacungkan tangannya perlahan-lahan, tetapi dalam keraguan ia menurunkan tangannya lagi, walaupun sesaat kemudian ia mengacungkan tangannya lagi.


“Oh, terima kasih,” kata perawat itu terpatah-patah. “Siapa namamu ?”


“Heng,” jawab anak itu.


Heng kemudian dibaringkan ke tandu, lengannya diusap dengan alkohol, dan kemudian sebatang jarum dimasukkan ke dalam pembuluh darahnya. Selama proses ini, Heng terbaring kaku, tidak bergerak sama sekali.


Namun, beberapa saat kemudian ia menangis terisak-isak, dan dengan cepat menutupi wajahnya dengan tangannya yang bebas.


“Apakah engkau kesakitan, Heng ?” tanya dokter itu. Heng menggelengkan kepalanya, tetapi tidak lama kemudian Heng menangis lagi, kali ini lebih keras. Sekali lagi dokter bertanya, apakah jarum yang menusuknya tersebut membuatnya sakit, dan Heng menggelengkan kepalanya lagi.


Tetapi tangisan itu tidak juga berhenti, malah makin memilukan. Mata Heng terpejam rapat, sedangkan tangannya berusaha menutup mulutnya untuk menahan isakan tangis.


Tim medis itu menjadi khawatir, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Untunglah seorang perawat Vietnam segera datang. Melihat anak kecil itu yang tampak tertekan – ia berbicara cepat dalam bahasa Vietnam. Perawat Vietnam itu mendengarkan jawaban anak itu dengan penuh perhatian, dan kemudian perawat itu menjelaskan sesuatu pada Heng dengan nada suara yang menghibur.



Anak itu mulai berhenti menangis – dan menatap lembut mata perawat Vietnam itu beberapa saat. Ketika perawat Vietnam itu mengangguk – tampak sinar kelegaan menyinari wajah Heng.


Sambil melihat ke atas, perawat itu berkata lirih kepada dokter Amerika tersebut, “Ia mengira bahwa ia akan mati. Ia salah paham. Ia mengira anda memintanya untuk memberikan seluruh darahnya agar gadis kecil itu tetap hidup.”


“Tetapi kenapa ia tetap mau melakukannya ?” tanya sang perawat Perancis dengan heran.


Perawat Vietnam itu kembali bertanya kepada Heng.. dan Heng pun menjawab dengan singkat :


“Ia sahabat saya..”



(Seperti yang ditulis oleh Kolonel dr. John W. Mansur, – termuat dalam buku “The Missileer”, New York, 2004)
10.02 | 0 komentar | Read More

Menebus Maaf, Melupa Salah

dua-sahabat


Apapun yang kau berikan kepada alam, suatu saat alam akan mengembalikannya, lengkap dengan bunga-bunganya …


Konon pada suatu masa di sebuah kota kecil, hidup dua orang pemuda. Mereka memang cukup ganteng dan populer di jamannya, tetapi di sisi lain mereka adalah cowok yang cukup bandel, liar, dan tidak pernah menghormati orang lain – sekalipun dilahirkan dari keluarga yang cukup terhormat.


Perilaku keliru ini belakangan menjadi kasus yang cukup serius ketika mereka mencuri domba dari peternak setempat. Dan hal ini adalah kejahatan yang cukup besar di masyarakat penggembala tersebut.


Sepandai-pandainya mereka, akhirnya cowok-cowok  itu tertangkap.



Karena malu, para orang tua kedua cowok itu segera mengusir dari rumahnya. Para penggembala pun mulai berunding untuk menentukan hukuman apa yang paling cocok bagi mereka. Para penggembala akhirnya memutuskan untuk memberi tatoo di jidat mereka dengan tulisan “ST”, singkatan dari “Sheep Thief” (pencuri domba). Karena bersifat permanen, maka tatoo ini akan kelihatan di dahi mereka seumur hidup.


Salah seorang diantara cowok itu cukup malu dengan tatoo tersebut, sehingga ia melarikan diri dari kota tersebut, dan tidak pernah ada kabar beritanya lagi.


Yang seorang lagi, dengan penyesalan mendalam dan tekad untuk memperbaiki hubungan dengan masyarakatnya. Ia memilih untuk tetap tinggal di kota dan mulai berbuat baik, terutama kepada warga yang pernah ia rugikan sebelumnya. Beberapa kali perbuatan baiknya ini malah menimbulkan kecurigaan dari masyarakat setempat, tetapi cowok itu tetap saja berbuat baik tanpa mempedulikan apa kata warga.


Setiap kali ada yang sakit, pencuri domba itu datang untuk merawat si sakit, membuatkannya bubur hangat dan menghiburnya dengan berbagai cerita-cerita lucu. Setiap ada kesibukan dan perayaan, pencuri domba itu selalu membantu dengan sukarela.


Ia tidak pernah memperhatikan apakah yang dibantunya itu kaya atau miskin. Kadang ia menerima tanda ucapan terima kasih, entah makanan maupun uang – tetapi lebih sering ia tidak pernah menerima apapun atas segala bantuannya – dan ia memang tidak pernah memperdulikan hal itu.


Beberapa puluh tahun kemudian, seorang turis datang ke kota itu – kota yang terkenal dengan udaranya yang sejuk dan kehidupan pedesaan yang masih alami. Ketika singgah pada sebuah warung di pinggir jalan, pelancong itu melihat seorang lelaki tua, dengan tatoo “ST” di jidatnya – sedang duduk di kursi goyang. Mata teduh orang tua itu tertuju pada ribuan domba di ladang samping rumahnya yang cukup megah di desa itu.


Turis itu juga memperhatikan bagaimana orang-orang yang lewat di depan rumah itu selalu menyempatkan diri untuk bercakap-cakap dengan orang tua itu – dan menunjukkan sikap yang sangat hormat, seolah-olah orang tua itu adalah bapaknya sendiri.


Ia juga melihat banyak sekali anak-anak yang bermain di halaman rumah yang tidak memiliki pagar itu. Turis mengamati, sesekali anak-anak itu menghentikan permainan mereka dan memeluk mesra orang tua itu.



Karena penasaran, orang asing itu bertanya kepada pemilik warung, “Apa arti huruf ST yang tertulis di jidat orang tua itu ?”


Jawab pemilik warung, “Saya tidak tahu. Kejadiannya sudah lama sekali…” sahut pemilik warung. Setelah terdiam sejenak untuk merenung, pemilik warung tersebut melanjutkan, “… mmm, menurut saya tulisan itu singkatan dari kata ‘Santo‘. “

10.01 | 0 komentar | Read More

Gubug Terbakar

kebakaranDalam sebuah bencana kapal karam, seorang lelaki terdampar di pulau  terpencil. Demi bertahan hidup, ia belajar memanfaatkan segala yang  ada di pulau itu untuk dimakan. Bahkan dalam upaya melindungi diri,  ia berhasil membangun gubuk untuk berteduh. Berbulan-bulan ia  bertahan tanpa bantuan siapa pun.


Suatu hari, ketika kembali dari  berburu, ia mendapati gubuknya terbakar. Dengan badan lemas ia mengeluhkan nasibnya. Namun, ternyata justru dari situ datang  pertolongan baginya: asap dari gubuk terbakar itu memberi tanda untuk  datangnya kapal penolong.



Itulah salah satu cara unik alam dalam memelihara manusia.  Pembawa bau kematian dijadikan-Nya pembawa harapan akan kehidupan.

10.00 | 0 komentar | Read More

Petak Umpet

refleksiPada suatu saat Tuhan memberi tebakan kepada pada malaikat-malaikatnya, “Jika Aku mau bermain petak umpet dengan manusia, apakah kalian tahu dimana tempat yang paling aman untuk bersembunyi ?”


Malaikat pertama menjawab, “Di dalam laut terdalam !”


“Salah” jawab Tuhan. “Manusia tetap dapat menemukanku, dengan akal pikirannya mereka dapat menciptakan kapal selam canggih yang dapat memetakan seluruh isi laut.”


Malaikat kedua menjawab, “Di puncak gunung Himalaya !”


“Lebih salah lagi !” Tuhan menjawab, “Tanpa teknologi pun manusia dapat menjangkau tempat itu.”


Malaikat ketiga menjawab, “Di bintang atau planet yang sangat jauh dari bumi !”



“Kalau ini sangat konyol !” Tuhan tersenyum, “Tidak usah pergi-pergi jauh kesana pun, manusia sekarang sudah mampu mengintipnya dengan teropong !”


…


Setelah beberapa lama tidak ada jawaban dari para malaikat-Nya, Tuhan pun membeberkan jawaban tebakan itu.


“Jika ingin tidak terlihat, Aku lebih suka bersembunyi di dalam hati manusia, karena akhir-akhir ini manusia mulai jarang memperhitungkan hatinya..”


Tuhan lalu melanjutkan, “Berbahagialah manusia yang bersih hatinya, karena mereka dapat melihat Aku..”

09.59 | 0 komentar | Read More